Jumat, 16 Desember 2011

Tatapan Kosong

Sumber Gambar Dari Sini
Dimanakah letak kemerdekaan itu, sudahkan ia tua renta dan tak bernyawa lagi, atau mungkin dia sudah menjauh dan tak mau bersahabat lagi dengan ku..??? Dulu jemarinya begitu lentik, mengelus asa kobarnya jiwa pemuda, namun aku mengabaikannya. Sekarang cengkramannya begitu menancap ubun-ubun kepala yang berisikan segelas penjabaran. Aku memang bersalah telah membuatnya terluka dan kini ia berbalik melukai diriku sendiri.
 
Oohhhh sampai kapan engkau akan menjauh dariku...! aku mulai bosan dengan senyum kamuflase yang kuciptakan sendiri. Kembalilah, kembalilah dengan segera, agar aku bisa merangkainya dari awal. Mungkin memang selayaknya aku terluka hari ini, tapi bukan untuk selamanya. Luka hari ini adalah pupuk kencing kuda yang akan segera kunaiki kudanya, tak mengapa ia berang aku akan tetap menaikinya sampai ia lelah dan akulah pemenangnya.

Kekesalan dan penyesalan memang terkadang menjadi titian yang harus kita lewati. Bukankah orang-orang besar terlahir dari hal-hal kecil dan dikecilkan tapi terus ia lakukan dengan modifikasi tanpa batas, bukankah senyuman merupakan buah dari getir hambar dan miang-miangnya kehidupan. Lalu kenapa mesti berlarut dalam keadaan yang tak menguntungkan ini, apa mesti lebih pedih dari kenyataan ini lalu kita baru berusaha untuk menyesalinya. Mumpung semuanya belum terlalu terlambat, maka lakukanlah perubahan itu senyatanya.

4 komentar:

  1. Benar :)
    jangan kelamaan.
    bergeraklah ! move on !

    BalasHapus
  2. kunjungan sob ..
    salam sukses selalu ..:)

    BalasHapus
  3. i love ur post, keep share^^
    mampir balik ke website kami yaa...
    berbagi pada sesama dengan mengunjungi http://hapeduli.hajarabis.com/

    BalasHapus

Terimakasih Atas Kunjungannya dan silahkan tinggalkan komentar...!!! :)
mohon untuk tidak meninggalkan link aktif....!!